Jakarta (ANTARA) - Direktur Manajemen Risiko PT PLN (Persero) Suroso Isnandar meraih gelar doktor di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan predikat cumlaude seusai berhasil menemukan solusi integrasi energi terbarukan melalui disertasi yang dilakukannya.
Suroso meraih gelar doktor dalam Program Studi Teknik Elektro dan Informatika di ITB setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul "Pendekatan Multiparadigma Berbasis Fuzzy Cognitive Multi Agent System (FC-MAS) pada Model Bisnis Pasar Kelistrikan Non-Kompetitif dan Regulasi Ketat dengan Integrasi Pembangkit Variable Renewable Energy".
Dalam penelitiannya, Suroso dalam keterangan di Jakarta, Rabu, mengkaji model bisnis pasar kelistrikan di Indonesia yang bersifat non-kompetitif dengan regulasi ketat.
Ia menyoroti peran PLN sebagai operator sistem tenaga listrik yang harus memastikan keseimbangan daya, keandalan suplai energi, serta stabilitas sistem tenaga listrik dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk kebijakan multisektor dari Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan Kementerian BUMN.
Penelitian itu juga membahas integrasi pembangkit Variable Renewable Energy (VRE) ke dalam sistem tenaga listrik nasional sebagai bagian dari transisi menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan.
"Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemodelan multiparadigma dengan Multi Agent System (MAS), sebuah metode berbasis agen dengan arsitektur Belief-Desire-Intention (BDI) yang memungkinkan setiap agen merepresentasikan dinamika sistem secara mandiri," ujar Suroso.
Metode itu memungkinkan simulasi interaksi kompleks antar variabel dalam sistem tenaga listrik yang diatur ketat, serta memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih adaptif dan responsif terhadap perubahan kondisi jaringan.
MAS diterapkan dengan integrasi Fuzzy Cognitive Mapping untuk menangani ketidakpastian dalam pengambilan keputusan terkait integrasi pembangkit VRE.
Sidang doktor yang berlangsung pada Jumat, (14/03) tersebut mendapatkan apresiasi tinggi dari tim penguji dan dinyatakan layak dengan predikat cum laude.
Dalam sidang doktoralnya, Suroso memaparkan tiga skenario simulasi yang digunakan dalam penelitiannya, yaitu skenario Business as Usual (BIS), skenario penurunan emisi, dan skenario penetrasi VRE.
"Kontribusi utama dari penelitian ini meliputi modifikasi model Multi Agent System dengan penambahan interface engine cognitive system berbasis fuzzy logic thinking, serta optimalisasi perencanaan operasi sistem dan penyaluran tenaga listrik," kata Suroso.
Selain itu, penelitian itu memberikan wawasan tentang dampak penetrasi pembangkit VRE terhadap sistem tenaga listrik, termasuk proyeksi perubahan pola konsumsi, penurunan permintaan listrik dari jaringan, serta implikasi finansial bagi PLN dan pemangku kepentingan lainnya.
"Kami berharap dengan Disertasi ini, mampu memberikan kontribusi lebih dalam pengembangan strategi dan kebijakan terkait integrasi energi terbarukan di Indonesia, sejalan dengan upaya pemerintah dalam mencapai target transisi energi yang berkelanjutan," kata Suroso.*