Sabtu, 24 Juni 2017

Wali Kota Khawatirkan Sukabumi Tidak Miliki Petani

id petani, Wali Kota Sukabumi, Mohamad Muraz, regenerasi, produksi pangan, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, HKTI, Ketua DPC HKTI Kota Sukabumi, Bagus P
Wali Kota Khawatirkan Sukabumi Tidak Miliki Petani
Ilustrasi - Petani sedang mencabut benih di lahan pertanian. (Foto Antara/Mamiek/Dok)
Petani yang ada sekarang usianya sudah tua rata-rata berusia di atas 50 tahun dan sulit menemukan petani yang usianya masih muda.
Sukabumi (Antara Megapolitan) - Wali Kota Sukabumi Mohamad Muraz mengkwatirkan dalam jangka waktu 10 hingga 20 tahun ke depan daerah ini tidak akan memiliki petani lagi karena minimnya regenerasi.

"Petani yang ada sekarang usianya sudah tua rata-rata berusia di atas 50 tahun dan sulit menemukan petani yang usianya masih muda," katanya di Sukabumi, Minggu.

Menurutnya, kondisi seperti ini harus diantisipasi semua pihaknya karena keberlangsungan produksi pangan sangat tergantung kepada petani, jika tidak ada maka persediaan pangan akan terancam dan bisa saja harus impor.

Maka dari itu, pihaknya juga meminta kepada Himpunan Kerukunan Tani Indonesia untuk mencetak regenerasi petani khususnya di Kota Sukabumi. Sebab masalah pertanian saat ini menjadi perhatian utama sehingga jangan sampai lahan yang ada dikuasai oleh asing karena tidak ada yang menggarapnya.

Data yang dimiliki Dinas Pertanian, Perikanan, Peternakan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi saat ini petani sekitar 5 ribu orang yang mayoritas usianya sudah di atas 50 tahun.

"Sebenarnya Kota Sukabumi banyak sarjana pertanian namun sayang tidak bekerja di bidangnya tetapi lebih memilih di perusahaan. Diharapkan lulusan-lulusan pertanian tersebut bisa menjadi generasi petani ke depannya," tambahnya.

Sementara Ketua DPC HKTI Kota Sukabumi Bagus Pekik mengatakan regenerasi petani di Kota Sukabumi menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat dan harus bisa dipecahkan bersama.

Sehingga pihaknya akan membuat banyak progam dan menciptakan inovasi baru agar generasi muda bisa memilih menjadi petani untuk masa depannya dan juga meningkatkan keahliannya di bidang pertanian.

"Keberadaan pangan sangat bergantung kepada petani, walaupun didukung dengan berbagai alat yang canggih tetapi tidak ada petaninya sama saja bohong," katanya.

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga