Rabu, 29 Maret 2017

Jalan Penghubung Antardesa Di Purwakarta Amblas

id jalan amblas, penghubung antardesa, Manager Humas PT KAI, Kereta Api Indonesia, Daop II bandung, Ciganea-Sukatani, penurunan tanah, purwakarta
Jalan Penghubung Antardesa Di Purwakarta Amblas
Kondisi jalan amblas di Purwakarta. (Foto Humas Pemkab Purwakarta)
Jalan penghubung antardesa ini sudah amblas sejak sepekan lalu.
Purwakarta (Antara Megapolitan) - Jalan penghubung antardesa di sekitar Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengalami amblas akibat terjadinya pergerakan tanah.

"Jalan penghubung antardesa ini sudah amblas sejak sepekan lalu," kata Sukmana, salah seorang warga setempat, di Purwakarta, Senin.

Ia mengatakan, jalur penghubung antardesa di daerahnya amblas berawal dari kondisi jalan yang retak-retak. Tapi setelah diguyur hujan selama beberapa pekan terakhir, jalan itu amblasnya.

Jalan penghubung antardesa yang amblas itu lokasinya tepat berada di bawah jembatan kereta api. Bahkan, ada satu tiang jembatan yang tanahnya sudah mulai terkikis.

Di lokasi itu, jalan penghubung antardesa di Kecamatan Jatiluhur amblas hingga lebih dari 150 meter.

Selain mengakibatkan jalan penghubung antardesa yang amblas, pergerakan tanah itu juga mengancam tiang penyangga rel kereta api.

Manager Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasional II Bandung, Joni Martinus, mengakui jalan yang amblas itu mengakibatkan tiang penyangga rel kereta api di KM 110 Ciganea-Sukatani mengalami penurunan sekitar 5 centimeter dengan panjang sekitar 20 centimeter.

"Saat ini kita sudah mulai melakukan perbaikan dengan menambah tumpukan batu kerikil untuk menambal penurunan tanah itu," katanya, saat meninjau lokasi pergerakan tanah ini di Purwakarta.

Ia menyatakan, kondisi tersebut tidak mengganggu pengoperasian kereta api. Hanya, kini pihaknya memberlakukan pembatasan kecepatan kereta saat melewati jalur tersebut.

"Kami pastikan perjalanan kereta tidak terganggu. Hanya kami batasi kecepatan kereta saat lewat jalur yang amblas ini. Kecepatan tidak boleh lebih dari 20 kilometer per jam," kata dia.

Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan Dirjen Perkeretaapian untuk melakukan kajian terkait penanganan permanen kerusakan yang terjadi di jalur tersebut. Tapi untuk saat ini pihaknya hanya mengantisipasi rel bergeser akibat penurunan tanah.

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga